BPDPKS – Mutu Institute – Aceh tamiang


Sebanyak 151 pekebun kelapa sawit swadaya dari Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, mengikuti Pelatihan Budi Daya Program Pengembangan SDM Perkebunan pada 13–18 Juli 2026. Kegiatan ini didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan bekerja sama dengan Mutu Institute sebagai penyelenggara pelatihan. Program ini menjadi langkah nyata untuk memperkuat kapasitas pekebun sawit rakyat agar mampu mengelola kebun secara lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan.
Pelatihan dibuka secara resmi oleh Kepala UPTD Balai Benih Hortikultura, Tanaman Pangan dan Tanaman Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Bapak Ahmad Zaini, SP, M.Si. Dalam pembukaannya, beliau menyampaikan bahwa kelapa sawit memiliki peran penting dalam mendorong perekonomian masyarakat Aceh, terutama di wilayah sentra perkebunan seperti Aceh Tamiang. Menurutnya, kemajuan perkebunan sawit di Aceh harus diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia pekebun. “Pekebun sawit swadaya perlu terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar mampu mengelola kebun secara tepat, produktif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Tabel: Fokus Materi Pelatihan Budi Daya Sawit Berkelanjutan
| Aspek Budi Daya | Ruang Lingkup Materi Lapangan | Output Kompetensi Pekebun |
| Hulu Perkebunan | Pemilihan bibit unggul dan manajemen pembibitan awal. | Mampu mengidentifikasi varietas bibit unggul bersertifikat. |
| Perawatan Tanaman | Pemeliharaan tanaman, pemupukan berimbang, dan kontrol OPT. | Efisiensi biaya operasional kebun dan peningkatan tonase TBS. |
| Prinsip Keberlanjutan | Pengelolaan kebun yang ramah lingkungan dan konsisten. | Kesiapan kebun swadaya menuju standarisasi berkelanjutan. |


Komisaris PT Forestcitra Sejahtera atau Mutu Institute, Bapak Sumarna, S.E., Ak., M.M, dalam sambutan dan laporan kegiatannya menyampaikan bahwa pelatihan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan teknis pekebun di lapangan. Peserta akan mendapatkan materi mengenai pemilihan bibit unggul, pembibitan, pemeliharaan tanaman, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, hingga pengelolaan kebun yang sesuai dengan prinsip keberlanjutan. Ia juga menegaskan bahwa kebutuhan dunia terhadap kelapa sawit masih terbuka luas karena komoditas ini digunakan dalam sektor pangan, energi, kosmetik, farmasi, dan berbagai industri turunan.
Dukungan BPDP dalam kegiatan ini menjadi bukti kepedulian terhadap peningkatan kapasitas petani sawit Indonesia. Melalui pendanaan pelatihan, BPDP hadir langsung untuk membantu pekebun swadaya meningkatkan kompetensi, memperbaiki praktik budi daya, dan memperkuat daya saing sawit rakyat. Upaya ini penting karena kualitas sawit nasional sangat ditentukan oleh kemampuan pekebun dalam menerapkan praktik perkebunan yang baik sejak dari hulu.
Selama enam hari pelaksanaan, peserta akan mengikuti pembelajaran yang berfokus pada penguatan keterampilan praktis budi daya kelapa sawit. Pelatihan ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menjadi bekal bagi pekebun untuk memperbaiki tata kelola kebun masing-masing. Pada akhirnya, sawit yang berkualitas harus dimulai dari budi daya yang baik dan tepat, mulai dari penggunaan bibit unggul, perawatan tanaman yang benar, pemupukan terukur, hingga pengelolaan kebun yang konsisten dan berkelanjutan.



FAQ (People Also Ask)
1. Kapan dan di mana pelatihan budi daya kelapa sawit untuk pekebun Aceh Tamiang ini dilaksanakan?
Pelatihan Budi Daya Program Pengembangan SDM Perkebunan ini berlangsung selama enam hari, tepatnya pada tanggal 13 hingga 18 Juli 2026, yang diikuti oleh 151 pekebun swadaya dari Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.
2. Siapa lembaga penyelenggara dan penyandang dana utama kegiatan pelatihan ini?
Kegiatan strategis ini didanai penuh oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan diselenggarakan melalui kerja sama dengan Mutu Institute sebagai pelaksana resmi pelatihan.
3. Apa saja materi teknis utama yang didapatkan oleh para peserta pekebun sawit swadaya?
Para pekebun mendapatkan pembekalan komprehensif mulai dari cara pemilihan bibit unggul, teknis pembibitan, pemeliharaan tanaman, sistem pemupukan yang benar, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), hingga prinsip pengelolaan kebun berkelanjutan.
4. Mengapa peningkatan kompetensi pekebun swadaya di tingkat hulu sangat krusial bagi industri sawit?
Karena kualitas komoditas sawit nasional dan pemenuhan kebutuhan pasar global untuk berbagai industri (pangan, energi, kosmetik) sangat bergantung pada kemampuan pekebun dalam menerapkan praktik perkebunan yang baik dan efisien sejak awal budi daya.