Apa fungsi sertifikasi produk? Baik produsen maupun konsumen ternyata dapat memetik manfaat dari adanya standardisasi dalam sertifikasi produk lho!
Tahukah Anda apa fungsi sertifikasi produk? Jika saat ini Anda sedang mengembangkan suatu barang atau jasa dan berencana untuk memasarkannya dalam waktu dekat, penting untuk tidak melewatkan hal ini.
Dengan berkembangnya era perdagangan bebas, produk yang beredar di pasaran pun meningkat dan tidak hanya datang dari Indonesia saja.
Oleh karena itu, meningkatkan mutu dan standar produk lokal menjadi keharusan bagi pelaku industri tanah air. Salah satunya adalah dengan memperoleh sertifikasi produk untuk barang atau jasa yang akan dipasarkan.
Fungsi Sertifikasi Produk dalam Menjalankan Bisnis
Salah satu fungsi utama adanya sertifikasi produk adalah untuk memastikan bahwa produk yang diterima oleh konsumen sudah memenuhi syarat-syarat standar kelayakan.
Persyaratan standar tersebut diatur oleh ISO (International Organization for Standardization), yaitu organisasi internasional yang fokus pada standardisasi produk.
Lalu, bagaimana fungsi serta manfaat adanya sertifikasi produk dengan dasar ketentuan standardisasi tersebut?
1. Segi umum
Secara umum, sertifikasi produk berfungsi untuk memperketat standar atas produk barang atau jasa yang ada di pasaran.
Meningkatnya mutu produk tersebut tentu menjadi nilai tambah bagi produsen karena konsumen cenderung lebih percaya pada produk yang sudah terjamin keamanannya. Sehingga, daya saing produk pun menjadi bertambah.
2. Segi konsumen
Dari segi konsumen, adanya sertifikasi produk menjadi jembatan bagi kepentingan merek terhadap pelaku usaha atau produsen.
Dengan mengikuti standar yang tepat dan terjamin, konsumen dan produsen pun dapat saling mengapresiasi satu sama lain. Kerugian pada konsumen pun dapat diminimalisasi karena produk yang merek gunakan sudah terjamin aman.
3. Segi perdagangan dan industri
Dalam dunia industri, adanya sertifikasi produk berfungsi untuk menjaga keteraturan dalam proses produksi. Sehingga perusahaan dapat keuntungan yang lebih besar dengan menerapkan standardisasi tersebut.
Selain itu, fungsi sertifikasi produk dalam perdagangan adalah sebagai bukti jaminan tertulis sehubungan dengan hal-hal berikut ini:
- Bahwa suatu barang atau jasa yang dijual di pasaran telah memenuhi standar persyaratan yang diacu dan memiliki jaminan kualitas. Contohnya adalah sertifikasi SNI.
- Bahwa produsen barang atau penyedia jasa telah menerapkan sistem manajemen mutu organisasi yang sesuai dengan standar internasional dalam membuat produknya. Contohnya adalah sertifikasi ISO 14000, ISO 9000, dan HACCP.
Sertifikasi tersebut juga menjadi penanda bahwa produk yang ditawarkan terjaga kualitas dan mutunya, sehingga konsumen pun terlindungi keselamatan dan keamanannya.
Baca juga: Sertifikasi Produk SNI Bagaimana Cara Memperolehnya?
Yang Membedakan Sertifikasi Produk dengan Pengujian Produk

Mengingat fungsinya di atas, tidak jarang orang mengartikan sertifikasi dan pengujian produk sebagai suatu hal yang sama. Padahal, keduanya memiliki perbedaan yang mendasar. Berikut beberapa poinnya.
1. Hasil pengujian
Meskipun dalam praktiknya ada proses untuk memastikan bahwa kualitas suatu sampel produk memenuhi persyaratan tertentu, hasil dari pengujian produk tidak sama dengan sertifikasi produk.
Dalam pengujian produk, laporan yang dihasilkan tidak mewakili keseluruhan produk atau dengan kata lain hanya berlaku pada sampel yang diuji saja.
Selain itu, hasil dari pengujian produk biasanya dituangkan dalam laporan analisa saja, bukan berupa jaminan tertulis atau sertifikat yang berlaku untuk jangka waktu tertentu seperti pada sertifikasi produk.
2. Parameter penilaian
Parameter dalam pengujian produk biasanya sesuai dengan permintaan dari produsen produk itu sendiri.
Sedangkan sertifikasi produk menggunakan standar tertentu yang ditentukan oleh pihak ketiga independen dalam penilaiannya. Contohnya adalah dengan mengacu pada Standar Nasional Indonesia atau standar-standar lain yang ditentukan oleh lembaga nasional dan internasional lainnya.
3. Masa berlaku hasil pengujian
Sertifikat yang didapat dari sertifikasi produk umumnya berlaku tiga sampai empat tahun dengan pengawasan yang ketat dari pihak pemberi sertifikasi tersebut setiap tahunnya.
Sementara itu, laporan pengujian produk hanya berlaku pada batch atau selama masa produksi tertentu saja. Contohnya, pengujian produk kosmetik batch 12345 untuk merek ABCDEF hanya berlaku selama masa produksi batch tersebut saja, misalnya 6 bulan.
4. Tipe sertifikasi
Selain itu, sertifikasi dan pengujian produk juga berbeda dalam hal jenis-jenisnya. Bahkan dalam beberapa tipe sertifikasi terdapat tahapan pengujian produk di dalamnya.
Tipe 1 dan 5 merupakan yang paling umum digunakan salam sertifikasi produk. Sertifikasi tipe 1 bisa dibilang sangat mirip dengan pengujian produk karena tidak ada tahapan audit pabrik dalam prosesnya.
Sedangkan pada sertifikasi tipe 1, ada beberapa tahapan yang perlu Anda lewati, yaitu pengujian produk, sistem manajemen mutu, dan audit proses produksi.
5. Pelabelan pada produk
Hal lain yang membedakan pengujian produk dan sertifikasi produk adalah penggunaan label pada barang atau jasa yang ditawarkan.
Sertifikasi biasanya diikuti dengan penggunaan label terkait pada produk. Misalnya, barang yang Anda jual telah memenuhi Standar Nasional Indonesia sehingga Anda menambahkan label SNI pada produk tersebut.
Sementara itu, pengujian produk umumnya tidak diikuti dengan penggunaan label pada produk.
Cara Mendapatkan Sertifikasi Produk
Anda telah membaca mengenai apa fungsi sertifikasi produk dan apa yang membedakannya dengan pengujian produk.
Meskipun bersifat sukarela, melakukan sertifikasi produk merupakan suatu pilihan yang tepat bagi setiap pelaku usaha. Sebab, hal ini dapat meningkatkan minat pasar terhadap barang atau jasa yang Anda tawarkan.
Lalu, bagaimana jika perusahaan atau organisasi Anda tertarik untuk mendapatkan sertifikasi atas barang atau jasa yang akan dipasarkan?
1. Memilih jenis sertifikasi
Ada cukup banyak jenis sertifikasi yang ada saat ini dan mencakup kategori yang berbeda-beda.
Contohnya untuk industri yang berdampak pada lingkungan sekitar, Anda bisa memilih ISO 14001:2015 untuk sistem manajemen lingkungan. Sedangkan untuk produsen produk olahan, barang yang akan diperjualbelikan perlu melewati sertifikasi HACCP BPOM, misalnya.
Jadi, Anda perlu memastikan bahwa sertifikasi yang akan diambil sesuai dengan industri dan kebutuhan perusahaan.
Anda juga tidak harus berpaku pada satu jenis sertifikasi saja. Sebab, dalam satu perusahaan tak jarang dibutuhkan beberapa sertifikasi sekaligus untuk menunjang produksi dan/atau operasional kantor.
2. Melakukan pelatihan sebelum proses sertifikasi
Proses untuk mendapatkan sertifikasi produk baik berupa suatu barang atau jasa memang membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup banyak.
Agar proses tersebut menjadi lebih mudah dan membuahkan hasil yang sesuai harapan, ada baiknya Anda mempertimbangkan untuk mengambil program pelatihan terkait jenis sertifikasi yang akan dilakukan.
Misalnya saat ini Anda menjalankan usaha di industri kayu, Anda bisa mempertimbangkan pelatihan SVLK atau Standar Verifikasi Legalitas Kayu.
Dengan mengikuti pelatihan tersebut, Anda pun dapat lebih memahami sistem verifikasi untuk mendapatkan sertifikasi terkait legalitas kayu termasuk persyaratannya dan cara membentuk image perusahaan atau organisasi agar sesuai dengan standar sertifikasi tersebut.
Belum tahu di mana tempat untuk bisa mendapatkan pelatihan yang sesuai dengan bisnis Anda? Mutu Institute dapat menjadi solusinya.
Sebagai lembaga pelatihan yang telah berpengalaman, Mutu Institute menyediakan berbagai program pelatihan yang bermanfaat bagi peningkatan produk yang Anda tawarkan serta perusahaan atau organisasi Anda secara keseluruhan.
Akhirnya, setelah memahami apa fungsi sertifikasi produk, kini Anda bisa langsung memilih program pelatihan yang tepat di Mutu Institute sebagai langkah awal peningkatan kualitas produk dan perusahaan Anda.
Ingin mengikuti Pelatihan/Training? Belum dapat Lembaga Pelatihan yang terpercaya? Segera hubungi kami melalui [email protected] atau . Follow juga Instagram Mutu Institute di @mutu_institute untuk update pelatihan lainnya.