Penilaian risiko K3 sangat penting dilakukan untuk meminimalisasi bahaya di tempat kerja. Simak pengertian serta langkah-langkah melakukannya berikut ini!
Dalam berbagai industri, implementasi K3 atau Keselamatan dan Kesehatan Kerja perlu dilakukan dan diawasi dengan baik. Tujuannya adalah untuk menjamin kesempurnaan fisik maupun mental para pekerja saat melakukan tugasnya di tempat kerja. Salah satu langkah penting tujuan ini bisa tercapai adalah dengan melakukan penilaian risiko K3.
Apa Itu Penilaian dan Pengendalian Risiko K3?
Penilaian risiko K3 sendiri adalah serangkaian pendekatan sistematis yang dilakukan untuk bisa mengidentifikasi dan mengendalikan bahaya yang dapat mengancam keselamatan dan kesehatan kerja.
Langkah ini dilakukan untuk membantu mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang bisa menyebabkan cedera pada manusia serta menginformasikan langkah-langkah pengendalian untuk menurunkan risiko cedera pada tingkat yang bisa ditoleransi.
Adanya penilaian risiko K3 diharapkan bisa membuat semua komponen dalam perusahaan tahu cara pengendalian operasional apa yang perlu dilakukan jika ditemukan risiko yang signifikan.
Penilaian risiko bukanlah aktivitas yang dilakukan untuk menghilangkan semua risiko di tempat kerja. Tidak pula bertujuan untuk menghapus kegiatan yang dianggap membahayakan (padahal kegiatan itu dibutuhkan dalam proses operasional).
Faktanya, kita memang selalu hidup berdampingan dengan risiko. Alih-alih melarang anak menyeberang jalan, tentu akan lebih baik jika anak tersebut diajari tentang cara menyeberang jalan yang aman. Hal yang sama juga berlaku dalam penilaian risiko K3.
Pengertian Risiko K3 dan Tingkatan Risiko K3
Pada dasarnya tingkat risiko K3 pada setiap jenis industri berbeda-beda. Industri kimia, tentu memiliki risiko berbeda dengan industri konstruksi. Begitu juga dengan industri jasa atau produksi makanan. Lalu, apa sebenarnya risiko K3 itu?
Jika dilihat dari definisinya, risiko K3 merupakan potensi kerugian yang bisa muncul jika terjadi kontak dengan sumber bahaya maupun kegagalan fungsi dalam kegiatan operasional. Penilaian operasional sendiri dilakukan dengan mengalikan antara nilai frekuensi dengan tingkat keparahan dari sebuah risiko.
Risiko bisa dikategorikan dalam 4 jenis yakni risiko rendah, sedang, tinggi dan risiko ekstrem. Untuk mengetahuinya, Anda bisa menggunakan tabel matriks risiko berikut ini:

Setelah proses penilaian risiko, maka akan diperoleh 4 kategori risiko yang masing-masing membutuhkan penanganan berbeda yakni:
- Untuk aktivitas dengan risiko rendah, diperlukan aturan, rambu-rambu atau prosedur untuk meminimalisasinya
- Untuk aktivitas dengan risiko sedang, diperlukan tindakan langsung
- Untuk aktivitas dengan risiko tinggi, diperlukan perencanaan pengendalian
- Untuk aktivitas dengan risiko ekstrem memerlukan tindakan dari manajemen atas.
Lewat representasi di atas, Anda bisa menentukan langkah pengendalian risiko terbaik dengan menggunakan 5 hierarki pengendalian risiko K3.
Langkah-langkah Penilaian Risiko K3

Seperti yang sudah disebutkan di awal pembahasan, penilaian risiko dimaksudkan untuk menetapkan kemungkinan adanya dampak dari sumber risiko yang bisa menghambat tercapainya sasaran dan tujuan organisasi. Penilaian risiko K3 memiliki sejumlah manfaat yakni:
- Membantu perusahaan mencapai tujuan dengan lancar
- Menciptakan hubungan yang berkesinambungan antara perusahaan dengan para pemangku kepentingan
- Memungkinkan perusahaan atau organisasi memberikan pelayanan secara efisien dan efektif
- Menjadi acuan dalam pembuatan rencana strategis
- Mencegah kerugian akibat pemborosan.
Pelaksanaan penilaian risiko dilakukan dengan beberapa langkah dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Penilaian juga wajib dilakukan dengan cara yang sistematis, kolaboratif serta iterative dengan menggunakan pandangan dan pengetahuan dari para pemangku kepentingan. Adapun tahapan atau langkah-langkahnya adalah:
Mengidentifikasi Risiko
Identifikasi risiko merupakan langkah pertama dalam proses penilaian risiko K3. Ini dilakukan dengan mencari informasi mengenai peristiwa atau kejadian dalam kegiatan operasional yang bisa menghambat tercapainya tujuan dan sasaran perusahaan.
Artinya, tim penilai harus membuat daftar risiko yang ada dengan menggunakan 4 W + 1 H (apa, kapan, di mana, mengapa dan bagaimana) suatu peristiwa dapat terjadi dan bagaimana peristiwa itu bisa berpengaruh pada tujuan.
Pendataan ini akan menghasilkan output berupa profil risiko yang mengandung berbagai informasi termasuk jenis peristiwa risiko, penyebab risiko, pemilik risiko, pengendalian yang sudah pernah dibuat dan sisa risiko dari setiap aktivitas yang dinilai risikonya.
Ada berbagai metode yang dapat digunakan dalam proses identifikasi risiko antara lain dengan menggunakan checklist (sesuai dokumen dan pengalaman), kajian dokumen, analisis SWOT, survei, wawancara, flowchart, analisis sistem dan lain sebagainya.
Penggunaan metode yang tepat serta keterlibatan dengan pemilik risiko akan menghasilkan identifikasi risiko yang tepat dan akurat.
Menganalisis Risiko
Langkah selanjutnya yang harus dilakukan dalam penilaian risiko K3 adalah dengan melakukan analisis risiko. Analisis risiko sendiri adalah sebuah proses yang dilakukan secara sistematis untuk menentukan seberapa sering sebuah risiko terjadi serta seberapa tinggi konsekuensi yang muncul karenanya (lihat kembali bagian matriks risiko K3).
Maksud dari analisis risiko adalah untuk mengetahui risiko mana yang harus dikelola dan diprioritaskan penanganannya.
Analisis risiko juga bisa dipahami sebagai proses untuk memahami karakteristik risiko baik dari segi dampak maupun probabilitasnya dengan menggunakan data kuantitatif dan kualitatif. Hasil yang diperoleh dari analisis ini adalah Level of Risks (Level Risiko) yang signifikan.
Pada tahapan ini, pimpinan perusahaan memiliki peran yang sangat penting dalam pengendalian dan pengelolaan risiko sesuai dengan tingkat risiko yang bisa ditoleransi. Tingkat risiko yang bisa ditoleransi dilihat dengan pertimbangan aspek manfaat dan biayanya.
Mengevaluasi Risiko
Ini merupakan langkah akhir dari rangkaian penilaian risiko K3. Evaluasi risiko dilakukan untuk membantu perusahaan mengambil keputusan sesuai dengan hasil analisis risikonya. Caranya adalah dengan membandingkan tingkat level risiko yang berhasil diidentifikasi dalam proses analisis dengan kriteria risiko yang sudah ada sebelumnya.
Proses evaluasi ini menentukan bagaimana setiap risiko akan diperlakukan (lihat bagian kategori risiko). Tahapan dalam evaluasi ini dilakukan dengan membuat daftar risiko dan prioritasnya dengan menggunakan ketentuan:
- Risiko yang paling tinggi levelnya harus diprioritaskan
- Jika ada beberapa risiko dengan level sama, maka yang diprioritaskan adalah area dengan dampak tertinggi sampai paling rendah berdasarkan kriteria dampaknya
- Kalau ternyata masih ada beberapa area dengan dampak yang sama, maka prioritas ditentukan dengan menggunakan urutan kategori risiko terbesar sampai terkecil berdasarkan kategori risiko
- Kalau masih ada beberapa area dengan dampak dan kategori risiko yang sama, maka penentuan prioritas dilakukan berdasarkan pertimbangan pemilik risiko.
Itulah beberapa hal yang perlu Anda ketahui tentang penilaian risiko K3. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai prosedur penilaian ini, Anda bisa mengikuti pelatihan ahli K3 bersama Mutu Institute. Dengan pengalaman selama bertahun-tahun, Mutu Institute siap mencetak ahli K3 terbaik di dunia kerja.
Ingin mengikuti Pelatihan/Training? Belum dapat Lembaga Pelatihan yang terpercaya? Segera hubungi kami melalui [email protected] atau . Ikuti Training sesuai kebutuhan Anda Bersama Kami. Anda dapat mengajukan pelatihan sesuai kebutuhan perusahaan maupun individu. Hubungi Mutu Institute sekarang juga. Follow juga Instagram Mutu Institute di @mutu_institute untuk update pelatihan lainnya.