ToT KKNI Level III Instruktur Junior 2026: Sinergi Mutu Institute & PT ANTAM Tbk

Pelatihan Training of Trainer (ToT) KKNI Level III Instruktur Junior adalah program sertifikasi kompetensi nasional yang dirancang untuk mencetak instruktur yang mampu merencanakan, menyampaikan, dan mengevaluasi pelatihan secara profesional. Diadakan oleh Mutu Institute bekerja sama dengan PT ANTAM Tbk pada Februari 2026, program ini bertujuan mentransformasi ahli teknis internal menjadi pendidik perusahaan yang handal. Keberhasilan pelatihan ini diukur melalui uji kompetensi ketat yang memastikan setiap instruktur memenuhi standar kerja nasional Indonesia.


Bagaimana Mutu Institute & PT ANTAM Memperkuat SDM Internal?

Strategi pengembangan kapasitas manusia di industri pertambangan memerlukan standarisasi yang diakui negara.

Mutu Institute bekerja sama dengan PT ANTAM dalam penyelenggaraan Pelatihan Training of Trainer level III Instruktur Junior. Pelatihan In House Training – Training of Trainer (ToT) KKNI Level III – Instruktur Junior yang diselenggarakan di PT ANTAM Tbk pada tanggal 9–11 Februari 2026 menjadi salah satu langkah strategis perusahaan dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia internal. Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai unit kerja, yang diproyeksikan untuk menjadi Instruktur Junior dan berperan aktif dalam mendukung proses pembelajaran serta transfer pengetahuan di lingkungan perusahaan.


Apa Saja Standar Kompetensi yang Harus Dipenuhi Instruktur Junior?

Sertifikasi ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan pemenuhan terhadap standar kualitas nasional.

Pelatihan ini dirancang mengacu pada standar Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Level III, yang menuntut peserta tidak hanya memahami konsep pelatihan berbasis kompetensi, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara sistematis dan terukur. Melalui program ini, peserta dibekali kemampuan untuk merencanakan, melaksanakan, serta mengevaluasi kegiatan pelatihan secara efektif sesuai kebutuhan organisasi.


Bagaimana Fondasi Pelatihan Berbasis Kompetensi Dibangun?

Pada tahap awal, peserta harus mengubah pola pikir dari sekadar “pemberi materi” menjadi “fasilitator kompetensi”.

Hari Pertama: Fondasi Pelatihan Berbasis Kompetensi. Hari pertama pelatihan difokuskan pada penguatan pemahaman konseptual mengenai pelatihan berbasis kompetensi dan peran strategis seorang Instruktur Junior dalam organisasi. Materi disampaikan oleh Ibu Meries Muhammad selaku trainer yang memandu jalannya pelatihan selama dua hari pertama.

Dalam sesi ini, peserta diajak memahami perbedaan antara pelatihan konvensional dan pelatihan berbasis kompetensi. Penekanan diberikan pada pentingnya kesesuaian antara kebutuhan organisasi, standar kompetensi, serta hasil belajar yang terukur. Selain itu, dibahas pula tanggung jawab Instruktur Junior dalam memastikan proses pembelajaran berjalan efektif, interaktif, dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kinerja.

Prinsip-prinsip andragogi atau pembelajaran orang dewasa juga menjadi materi penting pada hari pertama. Peserta memahami bahwa karakteristik peserta didik dewasa berbeda dengan peserta didik usia sekolah, sehingga pendekatan pembelajaran harus lebih partisipatif, berbasis pengalaman, dan relevan dengan konteks pekerjaan. Diskusi interaktif dan studi kasus turut memperkaya pemahaman peserta mengenai tantangan yang mungkin dihadapi saat memfasilitasi pelatihan di lingkungan kerja.

Selain itu, peserta mulai mempelajari penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) serta penyusunan struktur materi yang sistematis. Penekanan diberikan pada pentingnya tujuan pembelajaran yang jelas, metode yang tepat, serta alat evaluasi yang sesuai.


Apa Saja Keterampilan Instruksional yang Diperkuat pada Hari Kedua?

Keahlian teknis harus didukung oleh kemampuan komunikasi dan manajemen kelas yang mumpuni.

Hari Kedua: Penguatan Keterampilan Instruksional. Memasuki hari kedua, pelatihan berfokus pada penguatan keterampilan praktis sebagai instruktur. Ibu Meries Muhammad kembali memandu peserta dalam memahami teknik komunikasi efektif, penguasaan bahasa tubuh, serta cara membangun interaksi positif dengan peserta pelatihan.

Materi mengenai metode fasilitasi interaktif menjadi salah satu sesi yang paling dinamis. Peserta diperkenalkan pada berbagai metode pembelajaran seperti diskusi kelompok, simulasi, studi kasus, brainstorming, dan role play. Tujuannya adalah agar calon Instruktur Junior mampu menciptakan suasana belajar yang tidak monoton dan mendorong partisipasi aktif.

Selain itu, pengelolaan kelas (classroom management) juga menjadi perhatian utama. Peserta belajar bagaimana mengatasi situasi sulit, mengelola waktu secara efektif, serta menjaga fokus peserta selama pelatihan berlangsung. Penggunaan media pembelajaran yang tepat—baik presentasi visual, video, maupun alat bantu lainnya—juga dibahas sebagai bagian dari strategi meningkatkan efektivitas penyampaian materi.

Pada akhir hari kedua, peserta mulai menyusun bahan ajar masing-masing dan mempersiapkan diri untuk tahapan uji kompetensi. Proses ini menjadi momen refleksi sekaligus penguatan pemahaman sebelum memasuki evaluasi akhir.


Perbandingan: Pelatihan Konvensional vs Berbasis Kompetensi (KKNI)

Berdasarkan kurikulum yang kami terapkan, berikut adalah perbedaan mendasar yang dipelajari peserta:

FiturPelatihan KonvensionalPelatihan Berbasis Kompetensi (ToT KKNI)
Fokus UtamaPenyampaian materi (Input)Kemampuan kerja nyata (Output/Outcome)
MetodeCeramah satu arahAndragogi & Fasilitasi Interaktif
AcuanBuku teks/Kurikulum statisStandar Kompetensi Kerja (SKKNI)
EvaluasiUjian tertulisUji Kompetensi & Demonstrasi Praktik

Bagaimana Proses Uji Kompetensi Berlangsung?

Hari Ketiga: Uji Kompetensi. Hari ketiga merupakan puncak dari rangkaian kegiatan, yaitu pelaksanaan Uji Kompetensi KKNI Level III – Instruktur Junior. Uji kompetensi dilakukan untuk memastikan bahwa setiap peserta telah memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.

Dalam proses ini, peserta diminta menampilkan kemampuan mengajar melalui praktik penyampaian materi sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun. Asesor melakukan penilaian terhadap aspek perencanaan, penyampaian materi, penguasaan substansi, teknik komunikasi, hingga kemampuan mengelola interaksi kelas.

Uji kompetensi ini tidak hanya menjadi alat ukur kelulusan, tetapi juga sarana pembelajaran yang memberikan pengalaman nyata bagi peserta. Umpan balik yang diberikan membantu peserta memahami kelebihan dan area yang masih perlu ditingkatkan.


Apa Dampak Jangka Panjang bagi PT ANTAM Tbk?

Komitmen Pengembangan SDM. Melalui pelaksanaan ToT KKNI Level III ini, PT ANTAM Tbk menunjukkan komitmennya dalam membangun sistem pengembangan SDM yang berkelanjutan. Dengan memiliki Instruktur Junior yang kompeten di berbagai unit kerja, perusahaan dapat memperkuat budaya belajar, meningkatkan efektivitas pelatihan internal, serta menjaga standar kompetensi karyawan secara consisten.

Pelatihan ini diharapkan mampu melahirkan instruktur-instruktur internal yang profesional, percaya diri, dan mampu menjadi agen perubahan di lingkungan kerja. Dengan demikian, peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan dan tantangan bisnis perusahaan di masa depan.


Bangun Kapasitas Instruktur Internal Anda Bersama Mutu Institute

Untuk informasi lebih lanjut mengenai pelatihan lainnya, kunjungi situs resmi Mutu Institute atau hubungi tim kami melalui kontak yang tersedia. 

WhatsApp di 0817 7043 8915 (Chandra) atau ikuti kami di Instagram untuk melihat update pelatihan dan informasi terbaru.

Anda juga bisa mengunjungi saluran Youtube kami untuk melihat dokumentasi – dokumentasi selama pelatihan.

Kami juga mempunyai komunitas di Facebook untuk berdiskusi.

www.mutuinstitute.com


FAQ: Pertanyaan Seputar ToT KKNI Level III

1. Apa syarat utama menjadi Instruktur Junior Level III?

Sesuai standar KKNI, peserta harus memiliki kompetensi teknis di bidangnya, memahami prinsip dasar pelatihan, dan lulus uji kompetensi yang mencakup perencanaan serta penyajian materi pelatihan.

2. Apa perbedaan sertifikat pelatihan dan sertifikat kompetensi BNSP?

Sertifikat pelatihan menyatakan seseorang telah mengikuti kurikulum, sedangkan sertifikat kompetensi (BNSP) yang didapat melalui ToT KKNI menyatakan bahwa individu tersebut diakui secara nasional telah mampu melakukan pekerjaan instruktur.

3. Mengapa metode andragogi sangat ditekankan di PT ANTAM?

Karyawan perusahaan adalah pembelajar dewasa yang memiliki pengalaman. Metode andragogi memastikan pelatihan bersifat relevan, partisipatif, dan langsung bisa diterapkan dalam operasional pertambangan.

-
people visited this page
-
spent on this page
0
people liked this page
Share this page on

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *