Apa Itu Crude Palm Oil?
Seperti namanya, crude palm oil merupakan minyak kelapa sawit mentah. Produk ini diperoleh dari hasil ekstrkasi atau proses pengempaan daging buah (mesocarp) kelapa sawit umumnya dari spesies Elaeis guineensis dan belum mengalami pemurnian.
Minyak kelapa sawit mentah berbeda dengan minyak inti kelapa sawit (palm kernel oil) sekalipun keduanya dihasilkan oleh buah yang sama. Selain itu, minyak kelapa sawit mentah juga berbeda dengan minyak kelapa yang dihasilkan dari inti buah kelapa (Cocos nuifcera).
Perbedaan ini terletak pada kandungan yang dimiliki oleh masing-masing jenis minyak. CPOpada dasarnya mempunyai warna kemerahan karena adanya kandungan beta-karoten yang tinggi.
Beta karoten sendiri merupakan senyawa awalan vitamin A yang juga merupakan pigmen berwarna dominan merah-jingga yang secara alami ada pada tumbuhan termasuk buah-buahan.
Sementara itu, inti minyak kelapa sawit tidak memiliki kandungan beta-karoten sehingga dari komposisi warnanya pun berbeda. Adapun perbedaan kandungan lemak jenuh di antara minyak kelapa sawit mentah, minyak inti kelapa, dan minyak kelapa cukup signifikan, yakni berturut-turut 41%, 81%, dan 86%.
Komponen Penyusun Crude Palm Oil
Komponen penyusun crude palm oil meliputi kandungan senyawa, komposisi asam lemak, dan sifat fisika dan kimia.
Sebagai catatan, sifat fisika maupun kimia dalam minyak kelapa sawit mentah dapat berubah-ubah sesuai dengan kemurnian dan mutu dari minyak tersebut.
Adapun yang dimaksud dengan sifat fisika dan kimia dalam minyak kelapa sawit mentah mencakup warna, bau, rasa, kelarutan, titik cair dan polymorphism, titik didih, titik nyala dan titik api, bilangan iod, dan bilangan penyabunan.
Untuk selengkapnya, berikut adalah daftar komponen penyusun minyak kelapa sawit mentah.
Kandungan Senyawa Umum Minyak Kelapa Sawit Mentah
- Trigliserida : 95,62%
- Asam lemak bebas : 4,00%
- Air : 0,20%
- Phosphatida : 0,07%
- Aldehid : 0,07%
- Karoten : 0,03%
Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Sawit Mentah
- Oleat (C18:2) : 27 – 52%
- Palmitat (C16:0) : 32 – 59%
- Linoleat (C18:2) : 5,0 – 14%
- Stearat (C18:0) : 1,5-8%
- Linolenat (C18:3) : <1,5%
- Laurat (C12:0) : <1,2%
- Palmitoleat (C16:1) : <0,6%
- Miristat (C14:0) : 0,5 – 5,9%
Sifat Fisika dan Kimia Minyak Kelapa Sawit Mentah
- Warna : Jingga kemerahan
- Bilangan asam : 6,9 mg KOH/g
- Bilangan iod : 50 – 55 g I/100 g
- Bilangan penyabunan :224 – 249 mg KOH/g
- Titik leleh : 21 – 24˚ C
- Indeks refraksi (40˚C) : 36,0 – 37,5
Perbandingan Sifat Fisika dan Kimia Minyak Kelapa Sawit Mentah Sebelum dan Sesudah Mengalami Pemurnian
- Titik cair awal : 21 – 24 à 29,4
- Titik cair akhir : 26 – 29 à 40,0
- Bilangan iod : 14,5 – 19,0 à 46 – 52
- Indeks bias 40˚C : 14,5 – 19,0 à 46 – 52
Kegunaan Crude Palm Oil
Sebagai catatan, Indonesia sendiri merupakan negara penghasil minyak kelapa sawit tertinggi di dunia. Bersama dengan Malaysia, Indonesia berhasil memenuhi kebutuhan crude palm oil dunia hingga 85%.
Hal ini pun mendorong makin banyaknya studi yang dilakukan terkait inovasi yang dapat dilakukan terhadap olahan minyak sawit mentah. Tujuannya tak lain adalah meningkatkan nilai dari crude palm oil dan mempertahankan industri sawit yang ada saat ini.
Untuk pemanfaatan turunan dari produk pengolahan CPO, berikut adalah beberapa contohnya yang paling umum.
Campuran Biodiesel
Pemerintah Indonesia telah gencar mendorong dilakukannya peningkatan dalam pemanfaatan minyak nabati sebagai bahan bakar alternatif dalam hal ini adalah biodiesel. Minyak sawit dapat menjadi bahan campuran yang dikombinasikan dengan solar dalam takaran tertentu maupun menjadi 100 persen bahan bakar nabati (BBN).
Gagasan tersebut pun akhirnya terlihat makin nyata pada 2020.
PT Pertamina (persero) berhasil memproduksi bahan bakar yang 100 persen bahannya berasal dari minyak nabati alias D-100. Adapun dalam implementasinya, sejauh ini baru sebesar 30 persen biodiesel yang digunakan.
Meski begitu, hal ini tetap merupakan kabar gembira. Produksi BBN dalam negeri akan mengurangi ketergantungan Indonesia selama ini dalam melakukan impor minyak mentah.
Terlebih lagi dengan fakta bahwa Indonesia merupakan penghasil minyak sawit terbesar di dunia, kebijakan pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan bakar pun dapat lebih mudah diterapkan.
Bahan Baku Minyak Goreng
Salah satu pemanfaatan dari minyak nabati hasil pengolahan CPO yang paling umum adalah sebagai bahan baku minyak goreng. Minyak goreng sendiri merupakan salah satu kebutuhan harian mendasar rumah tangga, terutama di Indonesia.
Terlepas dari kontroversi yang menyebut bahwa minyak kelapa sawit berbahaya bagi kesehatan, nyatanya masyarakat masih menggunakan produk ini untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Walau sebagian besar fungsi minyak goreng adalah untuk keperluan dapur baik skala rumahan hingga restoran dan industri makanan berskala besar nyatanya dapat pula dimanfaatkan untuk beberapa keperluan lain.
Minyak goreng juga bisa digunakan sebagai pelumas alat rumah tangga, menghilangkan noda cat dari tangan, pelindung furnitur dan alat masak, hingga pembersih mobil.
Bahan Baku Produk Makanan
Di samping minyak goreng, minyak nabati dari crude palm oil juga menjadi bahan baku margarin. Seperti minyak goreng pula, margarin diperlukan untuk keperluan memasak mulai dari rumahan hingga industri makanan berskala besar sekalipun.
Margarin pun masih bisa menghasilkan produk olahan lainnya, sebut saja seperti cokelat, es krim, selai kacang, krimer, hingga biskuit dan berbagai kue kering.
Bahan Baku Kosmetik
Sekitar 70% produk kosmetik yang terdistribusi di seluruh dunia memiliki kandungan kelapa sawit di dalamnya. Pasalnya, minyak sawit memiliki kegunaan untuk memberi kelembapan dan tekstur yang dibutuhkan oleh produk kecantikan. Selain itu, harga CPO yang juga lebih murah dibandingkan beberapa bahan dengan manfaat serupa lainnya menjadi alasan mengapa minyak sawit lebih banyak dipilih.
Kendati belum ada data kuantitatif pasti yang menyebut jumlah seluruh produk kecantikan di seluruh dunia, dapat diamati bahwa industri kecantikan baru dengan berbagai produk yang ditawarkan terus bermunculan setiap waktunya. Kondisi ini tentunya membuat industri kelapa sawit makin tak kehilangan pasar.
Lain-Lain
Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) juga telah melakukan beberapa inovasi teknologi terhadap CPO melalui Program Penelitian dan Pengembangan yang menghasilkan beberapa penemuan berikut.
- Menghasilkan bensin nabati RON 110 dan sedang mengembangkan pilot plant bensin nabati kapasitas 10 liter/hari.
- Menghasilkan diesel hijau sawit dengan angka setana 53,18 dan sedang mengembangkan pabrik percobaan berkapasitas 20 liter/hari.
- Mengembangkan surfactant Metil Ester Sulfonat (MES) untuk meningkatkan produktivitas minyak di sumur tua.
- Mengembangkan foaming agent dari CPO untuk aplikasi bahan pemadam.
- Mengembangkan proses sintesis Emulsifier Mono-diasiligliserol (MDAG) sebagai bahan tambahan pangan.
Crude palm oil merupakan komoditas dengan nilai ekonomis tinggi. Oleh sebab itu, industri ini pun terus berkembang dan senantiasa memerlukan SDM berkualitas sebagai nahkoda perusahaan terkait.
Mutu Institute pun mendukung peningkatan SDM di bidang industri sawit melalui berbagai macam pelatihan seperti ISPO dan RSPO. Di samping itu, Mutu Institute juga menyediakan berbagai pelatihan sertifikasi pendukung lainnya seperti Auditor K3, Auditor Kimia, Auditor Halal, dan masih banyak lainnya.
Mutu Institute menjadi tempat yang tepat bagi pelatihan Anda. Tunggu apalagi? Segera hubungi Mutu Institute melalui [email protected] atau 0819-1880-0007.
Sumber:
http://eprints.polsri.ac.id/975/3/BAB%20II.pdf
https://bigalpha.id/news/minyak-sawit-untuk-apa-ini-kegunaan-cpo-di-hidup-kita
https://www.bpdp.or.id/inovasi-produk-dari-crude-palm-oil-cpo-dan-palm-fatty-acid-destilate-pfad
https://www.ptppi.co.id/produk/crude-palm-oil-dan-turunannya/